SDM

Indonesia negara yang sangat kaya. Sumber daya alamnya melimpah dan sumber daya manusia lebih dari dua ratus juta. Kekayaan alamnya terkenal sejak jaman dahulu bagai magnet yang menarik orang seluruh dunia datang ke Indonesia.

Meski sumber daya alam Indonesia diincar manusia seluruh dunia, rakyat negara ini sebagian masih miskin. Ironis, seperti tikus mati di dalam lumbung.

Salah satu penyebabnya ialah adanya ketidakseimbangan. Sumber daya alam (SDA) itu belum dikelola oleh sumbr daya manusia (SDM) yang berkualitas. Sebagian dari mereka tidak hanya miskin tetapi juga malas dan hidup seenaknya. Akibatnya, banyak SDA terbengkelai dan mubazir.

Mereka dijangkiti penyakit SDM alias self-defence mechanism negatif yang sangat kuat. Artinya, mereka suka membela dan membenarkan diri dalam hal-hal yang salah. Kasat mata bahwa pelbagai pelanggaran terus dilakukan. Pelanggaran lalu-lintas bagaikan koleksi budaya buruk yang telah menjadi habitus (kebiasaan). Bisa menerobos lampu merah di perempatan adalah kebanggaan. Bayangkan, betapa sulitnya mengubah budaya dan kebiasaan buruk!

Anugerah Allah yang melimpah tidak berubah menjadi berkah ketika berada di tangan orang yang malas dan suka melanggar aturan. Sesungguhnya, aturan merupakan nilai positif. Keteraturan membantu manusia menuju hidup yang baik dan sejahtera. Tatkala orang menolak keteraturan dan ketertiban mereka menjauhkan diri dari kehidupan bermartabat.

Penyakit SDM ini harus diobati dengan SDM pula, yakni self-development management. Menata diri, potensi dan nilai-nilai berkualitas tinggi bukan bahan diskusi dan untuk dipakai kompromi. It is a must! Lembaga-lembaga pendidikan seperti keluarga dan sekolah memegang peranan penting.

Keduanya perlu bekerjasama secara sinergis. Anak-anak dari keluarga yang berantakan dan tidak pernah menanamkan jiwa mulia dan taat azas menyumbangkan kekacauan. Sekolah-sekolah yang tidak mendidik generasi muda menjadi manusia berbudaya positif-konstruktif-relasional yang cinta damai melahirkan generasi egoistik, tertutup dan korup.

Universitas Katolik Widya Karya Malang
5 Agustus 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *